BRMP Kalimantan Selatan Lakukan Kunjungan Studi Tiru Pengelolaan UPBS ke BRMP Yogyakarta
YOGYAKARTA (brmp-kalsel) – Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS), Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Selatan melaksanakan kunjungan studi tiru ke BRMP Yogyakarta pada Senin (2/11/2026).
Kunjungan yang dinakhodai langsung oleh Kepala BRMP Kalimantan Selatan, Dr. Wahida Annisa Yusuf, M.Sc bersama tim UPBS tersebut disambut oleh Kepala BRMP Yogyakarta, Dr. Suharsono, S.Pt, M.Si beserta jajaran dan tim UPBS. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi, berbagi pengalaman, serta mempelajari secara langsung sistematika pengelolaan UPBS yang telah diterapkan di BRMP Yogyakarta.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat beberapa aspek penting yang menjadi fokus pembelajaran, di antaranya alur pelayanan UPBS yang sistematis serta teknik penanganan dan pengeringan benih, baik secara manual maupun menggunakan alat atau mesin pengering serta pengemasannya.
UPBS BRMP Yogyakarta menangani pengeringanbenih melalui dua metode, yaitu penjemuranmanual dan penggunaan alat pengering.Penjemuran manual membutuhkan waktusekitar lima hari, bergantung pada cuaca.Sementara itu, alat pengering lebih efisienkarena mampu mengeringkan 3 ton benih dalamwaktu sekitar 36 jam. Namun, penggunaannyamemerlukan listrik dan pelet sebagai sumberpanas. Selain itu, pembersihan alat perludiperhatikan saat pergantian varietas untukmencegah tercampurnya benih.
Selain pengelolaan pengeringan benih, diskusi juga membahas penanganan penyimpanan benih hortikultura, khususnya bawang merah. Dalam pengelolaannya, penyimpanan di ruangan tanpa pendingin (AC) berpotensi menyebabkan penyusutan benih hingga 45%. Sebaliknya, penyimpanan dalam ruangan ber-AC dengan suhu yang terlalu rendah dapat memicu pertumbuhan tunas sehingga benih tidak lagi memenuhi kelayakan sebagai benih sumber.
Melalui kunjungan studi tiru ini, BRMP Kalimantan Selatan berharap dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis yang dapat diadaptasi dalam pengelolaan UPBS di Kalimantan Selatan. Pertukaran informasi dan pengalaman antara kedua balai ini diharapkan mampu mendorong peningkatan efektivitas pelayanan UPBS, efisiensi penanganan pascapanen, serta menjaga mutu dan kualitas benih yang dihasilkan.